Wednesday, October 12, 2016

Pengaruh Tax Amnesty Terhadap Bisnis Properti

Hingga periode pertama tax amnesty berakhir di Jumat (30/9/2016), total dana repatriasi alias dibawa pulang ke Indonesia mencapai Rp 137 triliun. Lantas, apakah masuknya aliran dana ini berdampak ke sektor properti?

Head of Advisory Jones Lang Lasalle Indonesia Vivin Harsanto mengungkapkan, butuh waktu bagi sektor properti untuk memperoleh dampak dari aliran dana repatriasi tersebut. Ini karena investor perlu mempertimbangkan beberapa faktor, misalnya soal properti yang bagus, pengembang dengan reputasi baik, dan potensi kenaikan yield yang menarik.

"Kita belum bisa mengukur berapa persennya. Tapi kalau aktivitas mulai ada, mungkin kita baru bisa memperkirakan akhir tahun karena kan jilid 1 baru selesai jadi baru ada pergerakan akhir tahun. Jadi baru bisa perkirakan tahun depan perkiraannya berapa. Dampaknya sendiri akan terasa di kuartal I atau II tahun depan," ujar dia dalam media briefing di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (5/10/2016).

Harga properti di Indonesia sendiri masih lebih murah dibanding Singapura dan punya potensi pertumbuhan tinggi. Namun mengenai pendapatannya apakah juga akan tinggi, masih menjadi pertimbangan bagi para investor.

"Support perkembangan dengan tax amnesty sendiri sudah menjadi pembicaraan awal tahun hingga tiga kuartal pertama (2016). Masih banyak orang wait dan see untuk membeli. Memilih properti harus hati-hati, banyak hal yang harus dipertimbangkan," tambahnya.

Pada tahun depan, diprediksi akan banyak pengembang yang mulai percaya diri membangun produk baru. Selain itu, beberapa kebijakan pemerintah seperti penurunan suku bunga acuan, pelonggaran LTV hingga mulai adanya perbaikan ekonomi dalam negeri membuat pasar properti juga akan bergairah pada tahun depan.

Hal ini menurutnya akan membuat supply yang berlebih akan disambut oleh demand yang akan naik.

"Kalau dilihat dari chart, demand akan membaik pada waktu mendatang. Tapi memang supply yang masuk agak banyak. Jadi butuh waktu untuk menyerap supply yang masuk di kuartal tersebut. Jadi bukan berarti market-nya itu nggak ada demand. Demand ada, tapi supply berlebih," tutur dia.

Sumber: finance.detik.com
No comments: